Bapak Anti Miskin

Bapak anti miskin. Benar-benar gak mau dianggap miskin. Meski sebenarnya tidak kaya.  Dalam segala kondisi, bahkan saat tidak ada uang sama sekali. Atau juga saat pandemi seperti saat ini.

Saat bencana Covid 19 melanda Indonesia ini, di luar sana banyak ribut-ribut soal Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ada yang benar-benar miskin tidak mendapatkan, yang mampu malah dapat. Yang saudara RT, RW, lurah malah dapat. Kabar seperti itu mulai memenuhi beranda Facebook.

Entah benar entah tidak.

Cerita saya tentang bapak anti miskin

Adanya kabar seperti itu, membuat saya ingin menulis perihal bapak saya. Yang mana, bagi saya pribadi, sangat jarang ditemui orang dengan model pemikiran seperti bapak. Mungkin bisa jadi pelajaran buat kita semua.

Bapak anti miskin


Dari segi harta berupa tanah, memang bapak saya cukup mampu. Punya tanah dengan luas satu hektar lebih. Tapi sebenarnya, luas tanah seperti itu, di jaman seperti ini, tidak bisa dijadikan patokan baku untuk menentukan miskin tidaknya seseorang.

Tanah seluas itu, bukan persawahan. Hanya berupa tegalan. Sebagian malah tegalan berbatu. Yang tentunya tidak bisa ditanami segala jenis tanaman. Hanya tanaman kayu yang bisa menjadi harapan dari tanah model seperti itu.

Sebagian lagi tanah tegalan yang bisa ditanami tanaman pangan. Tapi jenis tanahnya liat. Keras kalau musim kemarau. Bahkan bisa muncul telo (tanah yang pecah menyerupai gempa bumi parah). Masyarakat sana biasanya menyebut telo ketigo (ketigo: musim kemarau).

Tekstur tanah liat tidak begitu produktif jika ditanami tanaman pangan. Paling-paling hanya jagung, kacang tanah yang bisa bagus. Sesekali ditanami padi gogo juga tidak bisa maksimal. Atau bisa juga ditanami tanaman buah. Seperti mangga, jambu, belimbing, dan lainnya.

Memang sebagian tanah bapak ditanami mangga. Tapi mangga hasilnya juga cuma setahun sekali. Itupun tidak seberapa.

Sampai saat ini, rumah bapak saya masih terbuat dari bambu. Orang Tuban menyebutnya gedhek.

Dengan model kehidupan seperti itu, bapak anti miskin. Dan juga anti dimiskinkan.

Sedikit cerita saya tentang sifat bapak yang seperti itu.

Mulai saya sekolah SD hingga kuliah, kalau ada tawaran beasiswa yang butuh Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), benar-benar dilarang keras menerima.

Yang boleh hanya beasiswa lain, prestasi misalnya.

Dulu waktu SMP, karena masih ada sisa kuota beasiswa kurang mampu, saya mau diikutsertakan. Anggapan guru, bukan karena saya dari keluarga miskin. Tapi lebih ke ingin memberi reward ke saya yang langganan prestasi akademik di masa itu.

Saya tidak berani mengiyakan langsung, saya konsul dulu ke orang tua saya, terutama bapak. Begitu pulang sekolah, saya langsung tanya ke emak bapak. Dengan tegas, tanpa pikir panjang, bapak langsung melarang menerima.

“tolak saja. Bukan hak kita. Beri kesempatan ke teman kamu lainnya yang lebih membutuhkan”, seperti itu penjelasan bapak.

Sampai SMA sekalipun, saya juga tidak pernah menerima beasiswa kurang mampu. Meski sebenarnya saya juga pingin dapat beasiswa. Untuk meringankan beban orang tua, yang pekerjaannya tani 100%.

Ternyata waktu SMA, jenis beasiswa lebih variatif. Ada yang namanya beasiswa prestasi. Syaratnya harus masuk ke kelas unggulan. Dimana kelas unggulan tersebut di pilih berdasarkan nilai raport SMP dan hasil tes waktu mau masuk SMA. Dari sekian ratus siswa, hanya dipilih sekitar 20an siswa. Saya masuk ke dalamnya. Jadi saya berhak atas beasiswa prestasi tersebut.

Saya konsul ke ortu dulu. Di ijinkan. Alhamdulillah.

SMA berakhir, saya melanjutkan kuliah di Malang. ada sedikit tabungan berupa sapi. Jadi sapi bapak dijual untuk biaya kuliah saya. Masuklah saya di Universitas Negeri di Malang.

Dua tahun berlangsung kuliah, keuangan keluarga saya makin tersendat. Biaya kuliah di Malang, sebenarnya mampu dibayar dengan penghasilan orang tua. Tapi biaya hidup sehari-hari yang lebih mahal dibanding biaya kuliah.

Biaya kuliah saya hanya Rp 1.050.000,00 / semester.

Biaya sehari-hari. Anggap saja makan 2 kali sehari x Rp 8.000,00. Berarti totalnya Rp 16.000,00. Minum sehari anggap saja Rp 2.000,00. Total jadi Rp 18.000,00. Selama sebulan (30 hari), berarti Rp 540.000,00.

Biaya kos selama setahun Rp. 1.800.000,00. Per bulan berarti sekitar Rp 160.000,00

Biaya untuk keperluan kuliah perbulan angap saja sekitar Rp 500.000,00. Meiputi biaya fotokopi, print, alat tulis, dan lainnya.

Jadi total biaya bulanan saya sekitar Rp 1.200.000,00

Satu semester (6 bulan), jadinya sekitar Rp 7.200.000,00

Di semester tiga, ortu sudah sampai hutang sana sini termasuk hutang di BRI untuk  mencukupi kebutuhan saya. Bahkan emak sampai buruh rempes kacang tanah, berangkat subuh pulang isya’.

Baru kali itu saya melihat susahnya orang tua memperjuangkan pendidikan saya.

Dengan tanggungan hutang seperti itu, tentu akan menjadi masalah bagi keuangan keluarga di semester ke empat saya.

Analisa saya ternyata benar. Di semester ke empat, benar-benar ada masalah keuangan. Harus mengembalikan hutang dan harus bayar kuliah saya lagi.

Nah di semester puncak kesulitan keuangan ini, ternyata ada beasiswa. Entah itu beasiswa apa. Pokoknya ada syarat SKTM.

Karena kepepet, saya coba ngurus juga. Karena beberapa teman saya juga suport ke saya untuk ikut ngurus. Di antara teman-teman saya yang ngurus, mungkin yang sebenarnya butuh adalah saya. Dengan kondisi latar belakang pekerjaan orang tua yang seperti itu.

Karena butuh SKTM, saya pulang ke Tuban. Minta pertimbangan ortu, ternyata diperbolehkan. Sebenarnya saya tahu, bahwa ortu (terutama bapak) tidak rela memiskinkan diri dengan minta SKTM. Tapi apa boleh buat, demi keberlangsungan kuliah dan masa depan saya. Bapak memperbolehkan.

Kemudian saya ke kantor desa minta SKTM. Kebetulan yang jadi kepala desa masih saudara. Ditanya, untuk kepentingan apa? Ya saya jelaskan tentang kondisi saya sekeluarga. Tanpa pikir panjang langsung dibuatkan beserta surat keterangan penghasilan. Waktu itu perangkat desa yang buatkan.

Mereka sempat rundingan, tentang berapa penghasilan ortu saya selama sebulan. Memang  saat itu musim paceklik tidak ada penghasilan sama sekali. Akhirnya saya terlibat dalam diskusi. Bahwa penghasilan ortu Rp 600.000,00/ bulan itu.

Oke, fix. Persyaratan beres. Saya balik ke Malang. Ngurus beasiswa.

Sampai di tempat pengumpulan berkas, semua persyaratan di cek. Mereka kaget lihat surat keterangan penghasilan ortu yang hanya Rp 600.000,00. Saya disangkal: kok gak masuk akal. Uang segitu bagaimana bisa hidup.

Pikir saya: anda pandai tapi bodoh Pak. Bodohnya anda karena tidak terlahir sebagai anak orang tani seperti saya.

Akhirnya, ya sudah. Berkas diterima.

Beberapa bulan ada pengumuman tentang beasiswa itu. Saya buru-buru minta di cekkan teman. Tapi tidak ada nama saya tercantum di situ.

Sebenarnya di masa seperti  itu, saya ingin nangis. Tapi malu tentunya dengan banyak orang di sekitar. Kan saya cowok, masak nangis gara-gara perkara begitu.

Pulang ke kos, saya telfon emak. Beneran saya saat itu nangis sambil cerita, gagal dapat beasiswa.

Saya sudah ijin, bagaimana kalau cuti, saya mau kerja dulu. Atau saya mutasi saja, pindah ke Tuban saja kuliahnya seperti mbak saya yang kuliah di Tuban saja.

Jawaban ortu: Jangan!

Intinya gak boleh cuti dan gak boleh mutasi kuliah.

Boleh kerja sambilan, tapi tetap lanjut kuliah.

Oke. Saya lebih tenang. Sudah ada jalan keluar, meski jalannya sempit. Kalau saya kerja, ya mau kerja apa. Pengalaman gak punya, kenalan gak punya.

Dari pengalaman ditolaknya beasiswa miskin tersebut, saya jadi belajar saat itu. Kemungkinan terbesar saya tidak diterima beasiswa itu, karena bapak yang anti miskin. Bapak saya tidak ridho tentang SKTM itu.

Cerita lainnya

Setelah saya bisa mandiri bayar kehidupan dan kuliah saya. Beberapa tahun kemudian apat kabari dari emak bahwa keluarga dapat Bantuan Langsung Tunai (BLT). Yang mana tiap beberapa bulan sekali disuruh ke kantor pos ambil uang tersebut. Nominalnya saya lupa.

Saat mendapat kabar seperti itu, bapak langsung ke RT perihal tersebut. RT membenarkan. Seketika bapak laporan, tidak mau ambil uang itu. Lagi-lagi menurut bapak, uang itu bukan haknya. Itu salah sasaran.

Tapi peraturannya, uang itu harus diambil. Sampai sampai bapak pernah dijemput perangkat desa untuk mengambil uang tersebut.

Kalau menurut pandangan saya, seolah bapak itu mengharamkan uang itu untuk dimakan. Karena sudah dipaksa ambil, uang sudah di tangan. Mau dimakan sepertinya tidak pantas. Akhirnya pernah dibelikan pedel (remukan batu kumbung/ batu putih untuk bangunan khas Tuban). Pedel tersebut digunakan untuk memperbaikan jalan umum di kampung.

Adapun cerita lainnya terkait uang tersebut saya kurang paham. Pernah dengar-dengar sama bapak dibagikan ke orang-orang.

Dan terakhir bapak sudah gak mau ambil lagi.

Andaikan saat ini banyak bapak seperti bapak saya

Mungkin saat pandemi corona ini tidak banyak berseliweran di media sosial maupun berita yang rebutan bantuan.

Mungkin akan lebih banyak orang yang share tentang pekerjaan baru yang suah diadaptasikan dengan kondisi terkini.

Mungkin akan lebih banyak yang mengucapkan syukur dibanding ngeluh gara-gara gak dapat BLT.


Mas Ito
Mas Ito Blogger, agropreneur

35 komentar untuk "Bapak Anti Miskin"

  1. Inspiratif sekali, sikap mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain. Tekad dan semangat yang kuat justru akan semakin mendekatkan pada kesuksesan

    BalasHapus
  2. Maasya allah.. Bapaknya kakak bener-bener punya kepribadian yang layak ditiru. Di saat banyak orang berlomba-lomba jadi orang susah dan rebutan BLT. Sampai yang benar-benar membutuhkan ngga kebagian. Kehadiran Bapaknya Kakak patut dijadiin role model

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Sayangnya bapak saya tidak mau dikenal orang. Jadi hidupnya ya cuma kerja di sawah, pulang, iatirahat. Gak pernah terlibat urusan sosial. Jadi tidak ada yg tau pribadi bapak

      Hapus
  3. Masya Allah mas, semoga bapak sehat selalu ya sekeluarga. Sebenernya miskin itu masalah mental. Banyak orang kaya yang mentalnya udah miskin. Sebenernya bapak mas Ito lah yang kaya jiwanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin. Benar memang, itu masalah mental kak

      Hapus
  4. Masyaallah, sungkem dan salam untuk bapaknya ya, Kak. Prinsipnya yang tegas, bahwa masih ada orang lain yang membutuhkan dan kita masih bisa membantu semampunya, justru akan membuat kita kaya, kak. Semoga saya bisa tertular semangat serta prinsipnya yang kuat seperti bapak, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bapak memang langka. Saya salut sama beliau

      Hapus
  5. MasyaAllah saya juga kuliah di UM mas. Salut bangeeeet dengan Bapak nya mas Ito. Saya sampai berkaca kaca bacanya. Hatinya sangat lapang, kaya dan terhormat. Beda sekali dengan orang2 yang ngaku2 ga mampu demi dapat BLT. Saya beneran pengin nangis baca ceritanya 😭😭😭

    BalasHapus
  6. Cerita yang berkesan sekali kak. Jarang ada bapak tang seperti itu. Semoga bapak sehat selalu ya kak.

    BalasHapus
  7. MasyaAllah, salut buat bapaknya mas. Ah, andai banyak yang berprinsip seperti itu. Sekarang malah orang mampu berbondong-bondong minta dikasih bantuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah mental dari mana ya itu..bapak saya hanya lulusan sd padahal

      Hapus
  8. Nggak banyak yang seperti itu. Yang banyak mah yang pura-pura miskin padahal nggak. Jadi banyak yang benar-benar harus dapat bantuan malah nggak kebagian.

    Salut.

    BalasHapus
  9. salut sekali kak, banyak orang yang suka memiskinkan diri sendiri, lalu berlomba-lomba mendapatkan BLT. tetapi bpk sungguh mulia, selama bisa bekerja, meyakinkan dirinya sendiri jika beliau masih mampu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasihh kak. Saya juga terheran heran dg bapak padahal cuma lulus sd

      Hapus
  10. Sungguh inspiratif, salam buat bapaknya. Zaman sekarang, justru banyak yang berkecukupan malah saling berlomba dapat bantuan

    BalasHapus
  11. Masya Allah. Karakter Bapak beda banget dengan kondisi kebanyakan sekarang ya.
    Seharusnya BLT itu memang ditujukan untuk orang-orang yang benar-benar membutuhkan, tetapi sekarang ada yang sengaja menawarkan diri untuk mendapatkannya.

    BalasHapus
  12. Suka sekali dengan prinsip Bapaknya Mas Ito yg menolak Surat Keterangan Tidak Mampu agar anak2nya dapat bantuan. Itu mental juara menurut saya, layak kita teladani sebagai generasi muda.

    BalasHapus
  13. inspiratif mas, kadang demi sekantong beras atau beberpa lembar rupiah, orang rela menukar harga dirinya. harga dirinya tidak lebih mahal dari sekantong beras dan lembaran uang. akibtnya banyak orang malas dan gak kreatif. bisanya cuma 'ngatong' alias minta2

    BalasHapus
  14. Ya Allah semoga bapak nya mas mendapatkan apa yang pantas didapatkan dari sifat beliau yang luar biasa.

    Cerita ttg beasiswa, saya pernah dulu ke geser oleh anak guru PNS. Padahal beasiswa tersebut bernama beasiswa kurang mampu.

    Hiks sedih dengarnya karena itupun saya gak jadi kuliah. Hehe kok malah curcol.

    Mudah2an ada bapak yang sama ditempat lain. Amin.

    BalasHapus
  15. MasyaAlloh keren, takjub banget aku ama bapaknya mas, semoga banyak bapak-bapak seperti ini di luar sana,

    sehat-sehat ya pak

    BalasHapus
  16. Ya Allah Bapak Mas keren MasyaaAllah. Kalau saya pribadi kebetulan awalnya cukup mampu, namun setelah ortu cerai, lalu papa ada masalah keuangan, saya juga sempat terluntang pas kuliah. Uang semester yang hanya 450 ribu per semester saya harus pinjam. Sambil ngajar privat, dapat beasiswa juga. Adek saya langsung ekrja juga jadi bisa bantu. Benar-benar masa yang sulit alhamdulillah bisa terlewati. Sekarang Mas sudah jadi agropeneur, kereeeen. Sukses selalu ya

    BalasHapus
  17. 11-12 dengan bapak saya mas . Sayaa tidak pernah dibenarkan mengurus surat keterangan miskin. Tapi kalo beasiswa prestasi diperbolehkan .
    Memang dampak covid 19 ini bener menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk melewati ujian ini

    BalasHapus
  18. Makanya suka bingung sama orang yang mampu tapi masih pengen dibilang belum berkecukupan, padahal orang yang sebenarnya membutuhkan berjuang sekuat tenaga bagaimana caranya jangan sampai ada belaskasih dari pihak lain. Saya juga merasakan hal yang sama sih, tapi selalu ada pintu rezeki yang tak terduga, misalnya pas saya masuk sekolah SMK favorit dimana tahun sebelumnya ada kebijakan pembayaran uang gedung sebesar 5jt kemudian ada biaya spp juga, ketika angkatan saya uang gedung dan spp dihapuskan.

    BalasHapus
  19. Bapaknya mas dan keluarga tentunya, benar-benar unik. Hebat. Mbrebes mili juga baca kisah mas.

    BalasHapus
  20. Kaya memang nggak selalu soal uang ya kan kak. Salam sama bapaknya kak. Salut sama keluarga kk

    BalasHapus
  21. masyaAllah. memang harus banyak orang yang bermental kaya bapak kakak nih. sayangnya kebanyakan warga kita mentalnya pengemis, pengennya dibantu mulu...

    BalasHapus
  22. MasyaAllah keren sekali bapak anda mas, walaupun keadaan ekonominya yang seperti itu tetap tidak ingin 'meminta-minta'. Semoga dilancarkan rejekimu dan keluargamu mas.

    BalasHapus
  23. Masya Allah, saya yang ngurusuin bansos jarang nemu loh orang yang kayak bapak sampean ini. Dikeluarin dari penerima juga susahnya minta ampun, pake ngancem2 segala. Padahal hasil evaluasi dia udah gak berhak menerima lagi.

    Keren. Salam hormat buat bapaknya.

    BalasHapus
  24. masyaalloh,, keren dan menginspirasi bapaknya kak,,, diaman masi byk org yg pura2 miskin buat dapat bantuan ini itu,, bapaknya kk malah bedaaaaa,, warbiasa

    BalasHapus
  25. Cerita yang sangat inspiratif dan memberi motivasi baik ya... Untuk selalu berusaha dan tidak berpura-pura miskin demi bantuan.. 2 thums

    BalasHapus
  26. Salut untuk bapaknya, Mas. Mental antimiskin seperti ini seharusnya yang dimiliki rakyat di negeri bernama Indonesia supaya tangguh menjalani hidup dalam kondisi apa pun. Terima kasih sudah berbagi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Jangan tinggalkan link hidup ya gaes.