Sekolah Bikin Ngantuk

Barusan dapat ilustrasi yang berisi tanggapan siswa terhadap UNBK. Tanggapan tersebut berisi keluhan, namun cara penyampaian memang dikemas dengan gaya bahasa anak jaman sekarang. Mereka mengeluh tentang tingkat kesulitan soal terutama soal yang sering menjadi momok bagi siswa, yang berkaitan dengan ilmu hitung. Matematika, fisika, kimia tentunya. Meski sudah makan bangku sekolah selama tiga tahun, tetap saja ilmu hitung sulit nyantol. Lha gimana lagi, ilmu hitung bikin ngantuk. Lebih dari itu, sepertinya kagiatan yang disebut belajar di sekolah juga bikin ngantuk.

Sekolah bikin ngantuk
Celoteh siswa pasca UNBK

Sekolah kok bikin ngantuk? Bukannya bikin pinter? Ngantuk sebagai efek samping pinter, atau mungkin sebaliknya. Gara-gara pingin pinter, semua akan pergi sekolah. Gara-gara sekolah, bikin ngantuk. 

Kok bisa ya ngantuk, kan mereka belajar. Ini yang sulit dijawab. Skripsi-skripsi belum ada kali yang melakukan penelitian tentang mengapa sekolah membuat siswa ngantuk. Atau mungkin sudah ada penelitian, namun tak dipedulikan banyak pihak. Atau mau peduli, tapi gak sempat peduli. 

Kesan ilmu hitung memang ruwet. Jarang yang ngefans sama ilmu hitung. Ilmu hitung di Indonesia mungkin juga selalu sedih karena banyak yang gak suka. Bahkan mungkin ilmu hitung ini mau minggat dari Indonesia. Pergi sana ke negara maju. 

Mau berbuat apa lagi untuk mengambil hati anak-anak sekolah biar cinta sama ilmu hitung? Langkah banyak, tapi belum juga berhasil. Sial! Ternyata banyak batu sandungan yang menghadang. Kurikulum sebagai acuan utama pendidikan lagi jungkir balik menata semua. Aaahhh... Lagi-lagi harus cari formula lagi untuk membuat ilmu hitung semakin dicintai. Nama kurikulum pun diubah. Isi juga diubah. Sayang, pemikiran tidak diubah. Hasilnya tidak signifikan. Malah bikin pusing. Sekolah harian ( pagi sampai sore) juga di gedok. Lagi-lagi malah banyak yang ngeluh. Ide bagus, tapi tidak ditunjang sarana pendukung. Sekolah bikin ngantuk jadinya. Pagi sudah harus buka buku. Siang sampai pulang juga baca buku cetak yang gitu-gitu aja. Bukunya juga sama saja tiap hari. Apalagi buku ilmu hitung. Hanya angka-angka dengan ilustrasi yang gitu-gitu aja. 

Di kota, desa, aceh, irian jaya, dan di berbagai tempat lain bukunya sama. Katanya indonesia itu ciri khasnya keberagaman, tapi bukunya keseragaman. Anak desa tidak tahu tentang kondisi rumah di kota, tapi ilustrasinya berupa gedung-gedung pencakar langit. Nambah sulit saja melogika ilmu hitung. Untuk mikir gedung saja sudah njlimet, sulit membayangkan.

Bagaimana kalau mengajar ilmu hitung tanpa buku cetak. Ditambah lagi tanpa kelas? Bakalan seru atau sebaliknya. Belum pernah diuji coba, karena lucu, gak masuk akal bagi mereka. Yang nyusun kurikulum belum pernah mengalaminya. Jadi kurang inspirasinya. Apalagi yang tanpa buku dan kelas. Ide gila. Gila banget. Sangat-sangat gila.

Kalau tanpa buku, terus pakai apa? Pakai apa aja yang bisa dihitung. Kalau tanpa kelas, terus bagaimana? Ya dimana aja. Belajar ilmu yang butuh mikir jangan dibatasi dengan ruangan. Apalagi tertutup. Bagai katak dalam tempurung. Sempit, terhimpit, sulit. 
Mas Ito
Mas Ito Blogger, agropreneur