Lampu Tradisional Pendamping Aktivitas Malam Kala Itu

Lampu tradisional. Sudah bukan jamannya lagi menggunakan lampu ublik/ teplok yang menggunakan energi minyak tanah. Selain produksi minyak tanah yang langka dan berakibat harga mahal, juga sudah tergerus arus modernisasi. Peneranganpun beralih ke listrik PLN.

Di kala itu, tahun 1996-2005. Saya yang sekolah SD-SMP, menghabiskan waktu malam, termasuk belajar dengan didampingi lampu tradisional. Masyarakat sekitar menyebutnya lampu ublik atau teplok. 
Lampu tradisional
Lampu tradisional ublik/ teplok
Ublik merupakan  alat penerang yang terbuat dari kaleng atau botol kaca bekas, kemudian di isi minyak tanah. Tidak lupa juga, tutup dilubangi sebagai jalan sumbu agar minyak tanah bisa meresap. Ada juga teplok buatan pabrik yang dilengkapi dengan kaca semprong sebagai pelindung api dari hembusan angin.

Di tahun 2000-an, masyarakat sekitar sudah memiliki penerangan lampu PLN, tapi patungan/urunan sekampung. Tiap rumah memiliki lampu yang terlihat ajaib. Hanya menggunakan kabel bisa memancarkan cahaya. Namun tiap rumah dibatasi dalam menggunakan lampu tersebut karena sekampung hanya punya satu sumber daya.

Berbeda dengan rumah saya yang jauh dari tetangga karena berada di tengah-tengah lahan pertanian seluas satu hektar. Malam selalu terlihat redup karena tetap mengandalkan penerangan lampu tradisional. Namun saya bersyukur, kondisi tersebut membuat saya bisa menikmati kerlip bintang dan bulan. Lebih dari itu, saya mampu mengalahkan redupnya kehidupan yang jauh dari akses pendidikan.

Di dekat pancaran cahaya dari ublik tersebut, saya menikmati membaca buku untuk menambah wawasan ketika kelak dewasa. Di bawah remangnya cahaya ublik, tidak mampu menyurutkan kemauan saya untuk terus menggali pengetahuan dari buku.

Semangat belajar bertambah ketiak ada momen dimana bapak menyalakan lampu petromak. Ada juga yang menyebutnya lampu king. Petromak merupakan lampu yang memanfaatkan energi minyak tanah. Namun menggunakan sistem yang lebih rumit dibandingkan ublik. Petromak harus dipompa agar ada tekanan udara yang menekan minyak tanah naik, kemudian bisa keluar dan menyalakan kaos lampu (bahannya mirip kain dan bisa menyala melalui proses pembakaran). 

Sayangnya, menyalakan lampu tersebut seperti ritual yang dilakukan di waktu-waktu tertentu saja. Waktu kupatan dan hari-hari besar saja. Atau waktu musim laron untuk menarik perhatian laron.

Mungkin kalian juga punya cerita tentang lampu tradisional dengan cerita yang berbeda. Kini cerita sudah berlalu. Rumah dan jalan sudah terang di kala malam hari hanya dengan lampu ajaib PLN.
Mas Ito
Mas Ito Blogger, agropreneur

Tidak ada komentar untuk "Lampu Tradisional Pendamping Aktivitas Malam Kala Itu"